HALOSULSEL.ID - Ketua Dewan
Lingkungan Hidup Kota Makassar, Melinda Aksa Munafri, kembali mengajak
masyarakat menjadikan pemilahan sampah sebagai budaya yang dimulai dari
rumah.
Ajakan itu disampaikan saat membuka Jelajah Sampah Kecamatan Ujung
Pandang yang berlangsung di Anjungan Pantai Losari, Minggu (2/8/2026).
Kegiatan ini menjadi titik ke-10 dari rangkaian Jelajah Sampah
yang akan dilaksanakan di 15 kecamatan se-Kota Makassar, termasuk wilayah
kepulauan.
Program tersebut merupakan bagian dari gerakan edukasi masif untuk
memperkuat partisipasi masyarakat dalam mendukung transformasi sistem pengelolaan
sampah menuju kota yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Melinda menegaskan bahwa perubahan pola
pengelolaan sampah yang saat ini diterapkan bukan sekadar kebijakan Pemerintah
Kota Makassar, melainkan bagian dari arah kebijakan nasional yang mendorong
agar hanya sampah residu yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Karena
itu, pemilahan sampah dari sumber menjadi langkah yang tidak bisa lagi ditunda.
“Kalau kita ingin TPA bertahan lebih lama dan lingkungan tetap
sehat, maka pekerjaan itu harus dimulai dari rumah. Sampah organik diolah,
sampah yang masih bernilai dipilah, dan hanya residu yang dibawa ke TPA. Ini
adalah tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.
Melinda menyampaikan bahwa upaya pembenahan di TPA Tamangapa telah
menunjukkan perkembangan yang signifikan. Area utama yang sebelumnya menjadi
sumber bau kini sebagian besar telah ditutup dengan tanah sehingga kondisinya
jauh lebih baik.
Selain itu, pengelolaan TPA juga mulai menerapkan sistem zonasi
antara area aktif dan tidak aktif sebagai bagian dari penataan yang lebih
modern.
Meski demikian, ia menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan
sampah tidak akan tercapai tanpa perubahan perilaku masyarakat.
Menurutnya, RT, RW, lurah, camat, hingga kader TP PKK memegang
peranan penting sebagai ujung tombak edukasi. Mereka diharapkan menjadi contoh
nyata dengan terlebih dahulu memilah sampah di rumah masing-masing sebelum
mengajak masyarakat melakukan hal yang sama.
“Jangan pernah lelah mengingatkan warga. Edukasi memang
membutuhkan proses, tetapi perubahan selalu dimulai dari kebiasaan-kebiasaan
kecil yang dilakukan secara konsisten,” kata Melinda.
Ia juga mengingatkan bahwa perangkat wilayah perlu memahami
berbagai metode pengolahan sampah mandiri, mulai dari penggunaan komposter,
pembuatan biopori, eco-enzyme hingga budidaya maggot, sehingga edukasi kepada
masyarakat tidak hanya bersifat teori, tetapi juga berbasis praktik.
Secara khusus, Melinda menyoroti tantangan Kecamatan Ujung Pandang
yang merupakan pusat aktivitas Kota Makassar. Selain memiliki keterbatasan
lahan untuk pengolahan sampah organik, kawasan ini juga menjadi lokasi sekitar
seratus pelaku usaha sektor hotel, restoran, dan kafe (Horeka) yang
menghasilkan volume sampah organik cukup besar setiap hari.
Karena itu, menurutnya, diperlukan kolaborasi lintas sektor agar
solusi yang diterapkan sesuai dengan karakter wilayah.
“Kami bersama Pemerintah Kota, Dewan Lingkungan Hidup, Dinas
Lingkungan Hidup, dan pemerintah kecamatan terus berkoordinasi mencari solusi
terbaik. Setiap wilayah memiliki tantangan yang berbeda, sehingga pendekatannya
juga harus disesuaikan. Yang terpenting, semangat untuk berubah tidak boleh
berhenti,” ungkapnya.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, peserta juga mengikuti
kelas edukasi mengenai pengolahan sampah melalui pembuatan biopori, eco-enzyme,
budidaya maggot, dan pemanfaatan komposter.
Edukasi tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi masyarakat
untuk mulai mengolah sampah organik secara mandiri di lingkungan masing-masing.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, Helmi
Budiman menegaskan bahwa pemerintah terus memperkuat implementasi kebijakan
pengelolaan sampah melalui perubahan pendekatan, dari tahap pendampingan menuju
sistem pengawasan yang lebih tegas. Langkah tersebut bertujuan membangun
kedisiplinan masyarakat sekaligus memastikan keberlangsungan lingkungan hidup
Kota Makassar.
Menurutnya, pengelolaan sampah bukan hanya bertujuan menghindari
sanksi, tetapi membangun budaya baru yang lebih peduli terhadap lingkungan. DLH
Kota Makassar berkomitmen menjaga kualitas lingkungan melalui pengelolaan
sampah yang mandiri, berkelanjutan, serta mendorong lahirnya perilaku ramah
lingkungan sebagai bagian dari upaya menghadapi tantangan perubahan iklim.
Pada kesempatan yang sama, Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar
juga menyerahkan satu unit motor Viar kepada UPT Pantai Losari Kecamatan Ujung
Pandang untuk mendukung operasional pengangkutan sampah di kawasan tersebut.
Kegiatan diawali dengan aksi plogging di kawasan Pantai Losari
yang berhasil mengumpulkan 49 kilogram sampah, terdiri atas 10 kilogram sampah
organik, 25 kilogram sampah anorganik, dan 14 kilogram sampah residu.
Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan talkshow menghadirkan
perwakilan Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Sulawesi Maluku dan Dewan
Lingkungan Hidup yang membahas pentingnya pengelolaan sampah berbasis
partisipasi masyarakat.
Melalui Jelajah Sampah yang kini telah memasuki titik ke-10,
diharapkan semakin banyak warga yang memahami bahwa perubahan besar berawal
dari kebiasaan sederhana, yakni memilah sampah dari rumah.
